FAQIH MUQODDAM DAN HABIB AL HADAD BELAJAR NAHWU KE GUS MIFTAH
Jakarta - Najwa S.
Di
dalam kitab Hilyat al Auliya (Masih dalam penyusunan, red) Karangan Gus Miftah
( KH. DR. Miftakur Rohmad, CPA, AK, CA ) di dalam bab Mimpi Auliya Jawa
diterangkan bahwa beliau pernah bermimpi sebagai berikut : bahwa datang seorang
arif kepada Gus Miftah setelah beliau selesai mengajar. Orang arif tersebut
bertanya “ amalam apakah kirang yang membawa derajat anda begitu tinggi ?
Sehingga datuknya Habaib berguru kepada saudara ? “ kemudian saya bertanya “
apakah maksud saudara ?” orang arif tersebut berkata “ sesungguhnya aku melihat
orang – orang berlari sambil membawa kitab. Orang pertama berlari sambil
membawa kitab, kemudian orang kedua berlari sambil membawa kitab, kemudian
orang ke tiga berlari sambil membawa kitab” Aku cegat orang ke tiga dan
bertanya “ Saudara siapa ? dan kenapa berlari membawa kitab ? orang itu
menjawab “ saya Ahmad Al Habshi dan di depanku Adalah Abdullah Al Hadad,
sedangkan yang paling depan Adalah Datuk ku Faqih Muqodam. Kami ini akan
menghadiri kajian Nahwu Gus Miftah, kami Adalah murid Gus Miftah “. Dan saya
melihat dalam mimpi, bahwa para habib
tersebut belajar kepada saya selama 5 tahun.
Di
dalam mimpi tersebut saya melihat Faqih Muqodam dan Al Hadad selalu menundukkan
kepala seraya membuka lembaran kitab nahwu yang telah usang oleh jejak para
pencari ilmu. Bibirnya tekun mengulang setiap kaidah, sementara telinganya
menangkap setiap penjelasan yang saya
berikan laksana tanah subur yang menyerap tetes hujan. Setiap i'rab yang
dijelaskan seakan membuka tabir makna Al-Qur'an dan kalam para ulama,
menjadikan huruf-huruf yang semula tampak sederhana berubah menjadi cahaya
pemahaman.
Lihat Juga video menarik berikut |
Gus Miftah cobain Private Jet Fly Bali
Saya
membimbing dengan kesabaran, meluruskan kekeliruan, menguatkan hafalan, dan
menanamkan kecermatan dalam setiap lafaz. Mereka itu tidak sekadar mempelajari
perubahan harakat, tetapi juga belajar tentang ketelitian, kerendahan hati, dan
penghormatan kepada ilmu. Baginya, setiap koreksi adalah anugerah, dan setiap
pelajaran adalah langkah menuju kedewasaan intelektual dan spiritual.
Kajian
yang saya berikan kepada para Habib itu bukan sekadar tempat mempelajari kaidah
bahasa Arab, melainkan taman ilmu yang menumbuhkan adab sebelum kecerdasan. Di
sana, seorang murid memungut mutiara demi mutiara ilmu dari lisan gurunya,
hingga lisannya fasih, pemahamannya lurus, dan hatinya dipenuhi rasa syukur
kepada Allah atas nikmat ilmu yang diwariskan.
Di
majelis itu yang dipenuhi keberkahan, para habib duduk bersimpuh di hadapan saya
dengan hati yang kosong dari kesombongan, namun penuh kerinduan akan ilmu.
Pandangan mereka tertuju kepada saya, sementara telinga mereka menyimak setiap lafaz yang keluar dari lisan
saya, seakan-akan setiap huruf adalah mutiara yang jatuh dari lautan hikmah.
Lihat juga video menarik berikut |
Harga naik Helikopter di Bali bersama Fly Bali
Tatkala
saya membacakan matan demi matan, Faqih
Muqoddam dan Al Hadad itu mengikutinya
dengan penuh khidmat. Ia mengulang setiap kaidah, menghafalnya, kemudian
menghubungkannya dengan contoh-contoh dari Al-Qur'an, hadis, dan syair Arab.
Bila lisan meraka keliru dalam
meng-i'rab, maka saya meluruskannya dengan kelembutan. Bila pemahaman mereka belum sempurna, saya membimbingnya dengan
kesabaran. Maka kesalahan bukanlah cela, melainkan tangga menuju kesempurnaan
ilmu.
Hari-hari
berlalu, namun semangatnya tidak berkurang. Setiap pelajaran yang diterimanya
semakin menambah rasa tawaduk. Semakin luas ilmunya, semakin ia mengetahui
betapa luas lautan bahasa Arab yang belum ia jelajahi. Ia pun memahami bahwa
keberhasilan mempelajari nahwu bukan hanya diukur dari banyaknya kaidah yang
dihafal, melainkan dari adab kepada guru, ketekunan dalam mengulang pelajaran,
kesabaran dalam menghadapi kesulitan, serta keikhlasan mencari ridha Allah.
Tahapan
Pembelajaran Gus Miftah kepada Para Habib ( Dalam Mimpi).
Perjalanan
belajar nahwu idealnya bertahap. Para ulama sering menekankan kaidah:
من رام العلم جملةً ذهب عنه جملةً،
وإنما يُنال العلم شيئًا فشيئًا
"Barang
siapa ingin menguasai ilmu sekaligus, niscaya ilmu itu akan hilang darinya.
Ilmu diraih sedikit demi sedikit."
Berikut
tahapan yang diajarkan Gus Miftah kepada para Habib dalam mimpi tersebut
|
Tingkatan |
Materi yang Dipelajari |
Target |
|
1. Mubtadi' (Pemula) |
Mengenal isim, fi'il, huruf; tanda i'rab; marfū', mansūb,
majrūr, majzūm; jumlah ismiyyah dan fi'liyyah |
Mampu membaca teks sederhana dengan benar. |
|
2. Dasar |
Mubtada'-khabar, fa'il, maf'ul bih, na'at, mudhaf-ilaih,
'athaf, badal, taukid |
Memahami fungsi setiap kata dalam kalimat. |
|
3. Menengah |
Isim-isim manshubat, marfu'at, majrurat; kana wa
akhawatuha; inna wa akhawatuha; af'al muqarabah |
Meng-i'rab kalimat secara lengkap. |
|
4. Lanjutan |
Bab syarat, istitsna', tamyiz, hal, munada, maf'ul mutlaq,
maf'ul li-ajlih, maf'ul ma'ah, tanazu', isytighal |
Memahami struktur kalimat yang kompleks. |
|
5. Mahir |
Ikhtilaf pendapat ulama Basrah dan Kufah, ta'lil nahwi,
syawahid Al-Qur'an dan syair Arab, analisis kitab-kitab klasik |
Mampu menjelaskan alasan setiap i'rab dan mengajar orang
lain. |
Urutan
Kitab yang diajarkan Gus Miftah ( Dalam Mimpi)
Banyak
pesantren menggunakan urutan seperti berikut:
- Al-Ājurrūmiyyah
(dasar nahwu)
- Mutammimah al-Ājurrūmiyyah
- Qaṭr an-Nadā wa Ball aṣ-Ṣadā
- Alfiyyah Ibnu Malik
- Syarḥ Ibnu 'Aqīl
- Awdaḥ al-Masālik
karya Ibnu Hisyam al-Anshari
- Mughnī al-Labīb
karya Ibnu Hisyam al-Anshari (tingkat pakar)
Metode
Belajar yang Diterapkan
- Menghafal matan
terlebih dahulu.
- Membaca syarah
bersama guru.
- Mengulang (muraja'ah)
setiap hari.
- Banyak latihan i'rab
dari ayat Al-Qur'an, hadis, dan teks Arab.
- Membaca kitab gundul
secara bertahap.
- Menyimak koreksi guru
dengan penuh adab.
- Mengajar kembali
pelajaran kepada teman, karena mengajar adalah bentuk penguatan pemahaman.
Gus
Miftah mengatakan bahwa :
العلم يؤخذ
من أفواه الرجال، لا من بطون الكتب
"Ilmu
diambil dari lisan para guru, bukan semata-mata dari lembaran kitab."
Maksudnya
bukan meremehkan kitab, melainkan menegaskan bahwa kitab akan lebih hidup dan
lebih tepat dipahami apabila dibaca di hadapan guru yang memiliki sanad
keilmuan, sehingga setiap kaidah nahwu dipahami sesuai maksud para penyusunnya
dan tidak hanya menjadi hafalan tanpa pemahaman.
Demikianlah
kisah mimpi yang dialami Gus Miftah dan akan dituangkan dalam kitab beliau pada
Bab : Mimpi Awliya Jawa.
***
Najwa S***
Saya tertawa membaca artikel ini...kemarin habib bilang Rosululloh dan Ali berlari lari bawa kitab hadiri kajian habib.....sekarang Gus Miftah mimpi datuknya habib bawa kitab berlari lari hadiri Kajian nahwu Gus Miftah.....anjay.....haha
BalasHapusGus Miftah ngajar faqih muqoddam..pasti akhirnya faqih moqoddam bisa baca kitab kuning, bagaimana dengan si bahar yang baca kitab kuning dari kiri ke kanan ?
BalasHapus