SIWAK GUS MIFTAH 70.000 LEBIH HEBAT DARI PADA SIWAK HABIB JINDAN

 



Barokah Siwak Gus Miftah 70.000 kali siwak Habib Jindan

Bali - Najwa S.

Saat ini ramai berbincangan tentang karomah benda benda yang dimiliki oleh orang orang soleh, diantaranya Adalah siwak. Bahkan banyak Jemaah yang meyakini bahwa siwak Gus Miftah ( KH. DR. Miftakur Rohmad, CPA., Ak., CA., CMA ) barokahnya 70.000 kali disbanding siwak Habib Jindan. Para Jemaah dan pengikut Gus Miftah meyakini bahwa ke faqihan dalam ilmu syariat bahwa Gus Miftah jauh lebih berilmu dibandingkan Habib Jindan.

Kisah tentang karomah siwak yang dikaitkan dengan Gus Miftah ataupun Habib Jindan bin Novel biasanya beredar di kalangan jamaah majelis dan cerita lisan (riwayat tidak resmi). Berikut gambaran narasi yang sering diceritakan:

Kisah karomah siwak

Dikisahkan bahwa suatu waktu, Gus Miftah menggunakan siwak (kayu pembersih gigi yang dianjurkan dalam sunnah Nabi). Siwak tersebut kemudian dianggap memiliki keberkahan (barakah) karena sering dipakai oleh beliau yang dikenal sebagai Kyai yang alim ( Beliau murid langsung dari Syeh Abdullah Faqih dari Pondok Pesantren Langitan Tuban).

Silahkan dilihat videonya disini |

Siwak Gus Miftah barokahnya 70.000 kali siwak habib Jindan

Dalam cerita yang beredar:

  • Ada jamaah yang menyimpan atau mendapatkan potongan siwak tersebut.
  • Siwak itu diyakini membawa manfaat, seperti kemudahan urusan, ketenangan hati, bahkan kesembuhan dari penyakit.
  • Sebagian orang mengaitkannya dengan karomah, yaitu kejadian luar biasa yang Allah berikan kepada hamba-Nya yang saleh.

Bagaimana cara memahami kisah ini

Dalam tradisi Islam (terutama di kalangan tasawuf dan majelis dzikir), kisah seperti ini biasanya dipahami sebagai:

  • Simbol keberkahan dari orang saleh
  • Bentuk penghormatan kepada ulama
  • Penguat iman bagi jamaah

Namun, penting juga dicatat:

  • Kisah ini tidak memiliki verifikasi ilmiah atau sanad yang ketat seperti hadits
  • Dalam pandangan sebagian ulama yang lebih kritis, karomah tidak dijadikan dasar keyakinan utama atau praktik keagamaan
  • Fokus utama tetap pada ibadah, akhlak, dan mengikuti sunnah, bukan pada benda atau kisah luar biasa

Silahkan lihat video menarik Lainnya |

Satu Jam Mengitari Bali Dengan Helicopter

Cerita siwak Gus Miftah lebih merupakan kisah populer di kalangan jamaah yang mencerminkan keyakinan tentang barakah orang saleh, bukan fakta yang bisa dipastikan secara objektif. Sikap yang seimbang adalah menghormati cerita tersebut tanpa berlebihan dalam meyakininya.

1. Pandangan Al-Ghazali

Dalam karya seperti Ihya Ulumuddin, Al-Ghazali:

  • Mengakui karomah itu nyata dan bisa terjadi pada wali Allah
  • Menganggap karomah sebagai “bonus” dari kedekatan spiritual, bukan tujuan utama
  • Menekankan bahwa karomah tidak selalu berupa hal spektakuler, tapi bisa berupa:
    • kemudahan dalam ibadah
    • hati yang bersih
    • istiqamah

Dalam perspektif ini, benda yang terkait orang saleh (seperti siwak) bisa saja dianggap membawa barakah, selama tidak diyakini punya kekuatan mandiri.

2. Pandangan Ulama Kritis Seperti Ibnu Taimiyah

Ibnu Taimiyah juga:

  • Mengakui وجود karomah (karāmah al-awliyā’)
  • Tapi memberi batasan yang ketat, yaitu:
    • Karomah harus tidak bertentangan dengan syariat
    • Tidak boleh dijadikan alat kultus individu
    • Harus dihindari keyakinan bahwa benda/individu punya kekuatan sendiri

Beliau juga mengingatkan:

  • Banyak klaim karomah bisa jadi ilusi, kebetulan, atau bahkan penipuan
  • Fokus utama adalah ittiba’ sunnah Nabi, bukan mengejar hal luar biasa

Dalam kacamata ini, kisah siwak:

  • Bisa dianggap berlebihan atau rawan penyimpangan jika diyakini membawa efek “ajaib”
  • Apalagi jika sampai dijadikan objek keyakinan khusus.

 

Titik temu pandangan para ulama

Titik temu:

  • Keduanya sepakat karomah itu ada
  • Keduanya menolak menjadikan karomah sebagai tujuan utama

Perbedaan utama:

  • Al-Ghazali → lebih akomodatif terhadap pengalaman spiritual dan barakah
  • Ibnu Taimiyah → lebih ketat dan kritis terhadap klaim serta praktik turunannya

Dikaitkan dengan kisah “siwak Gus Miftah”

  • Dalam pendekatan ala Al-Ghazali → bisa dipahami sebagai ekspresi cinta dan keyakinan pada keberkahan orang saleh
  • Dalam pendekatan ala Ibnu Taimiyah → perlu dikritisi agar tidak jatuh ke pengkultusan benda atau individu

Kesimpulan sederhana

Kisah seperti ini berada di wilayah antara iman, budaya, dan persepsi jamaah.
Sikap paling aman:

  • Tidak langsung menolak mentah-mentah
  • Tapi juga tidak menelan bulat-bulat
  • Tetap menempatkan tauhid dan syariat sebagai standar utama.

Subscribe to receive free email updates:

1 Response to "SIWAK GUS MIFTAH 70.000 LEBIH HEBAT DARI PADA SIWAK HABIB JINDAN"

  1. Kalau siwak Gus Miftah dibuat dawir seperti habib habib kah ?

    BalasHapus