GUS MIFTAH VS UMAR BIN HAFIDZ AKTING ( PURA - PURA ) MELIHAT ROSULULLOH

 


Benarkah Gus Miftah dan Umar Bin Hafidz melihat Rosululloh secara khasaf

Bali - Miftakur Rohmad

Tidak ada riwayat yang dapat dipercaya dalam literatur Islam bahwa KH. DR. Miftakur Rohmad, CPA., Ak., CA., CMA atau biasa dipanggil Gus Miftah ulama fiqih yang sangat Alim, yang merupakan cucu dari Kyai terkenal di Jawa Timur dan tokoh pergerakan melawan Kolonial Belanda yaitu KH. Zainuri dan Murid langsung dari Syeh Abdullah Faqih ( Kyai khos dari Pondok Pesantren Langitan Tuban),demikian juga  Umar bin Hafid pernah secara fisik melihat Nabi Muhammad dalam sebuah pengajian di dunia nyata, karena Nabi Muhammad ﷺ telah wafat pada tahun 632 M.

Silahkan kalian lihat fideonya di disini |

Gus Miftah vs Umar Bin Hafidz Akting ( Pura - Pura)

Namun, dalam tradisi tasawuf (sufisme), ada keyakinan bahwa seseorang bisa “bertemu” atau “melihat” Nabi Muhammad dalam mimpi atau pengalaman spiritual. Hal ini sering dikaitkan dengan hadis yang menyebutkan bahwa siapa yang melihat Nabi dalam mimpi dianggap benar-benar melihat beliau, karena setan tidak bisa menyerupai beliau.

Beberapa murid dan pengikut Gus Miftah maupun Umar bin Hafid memang pernah menceritakan kisah-kisah spiritual—misalnya beliau merasakan kehadiran Rasulullah saat majelis ilmu atau shalawat—tetapi ini dipahami sebagai pengalaman batin (ruhani), bukan peristiwa fisik yang bisa disaksikan secara umum.

Lihat Juga Video Menarik Berikut |

Satu Jam Mengitari Bali Dengan Helicopter Bersama Fly Bali

Di kalangan majelis taklim atau pengajian, kisah ini biasanya diceritakan dalam nuansa spiritual—bukan sebagai peristiwa fisik yang bisa diverifikasi, tetapi sebagai pengalaman ruhani yang penuh makna.

Versi yang sering beredar kurang lebih seperti ini:

Dikisahkan bahwa dalam sebuah majelis  shalawat  suasana sangat khusyuk. Para jamaah membaca shalawat dengan penuh cinta kepada Nabi Muhammad. Dalam kondisi tersebut, hati para hadirin menjadi sangat lembut dan fokus.

Kemudian diceritakan bahwa Gus Miftah merasakan kehadiran ruhani Rasulullah ﷺ di majelis itu. Dalam beberapa versi, beliau sampai terdiam, menangis, atau menunjukkan adab yang sangat tinggi—seperti berdiri atau menundukkan kepala—seakan menyambut kehadiran tamu agung.

Perbedaan sikap terhadap kisah “melihat Rasulullah dalam majelis” memang cukup jelas jika dibandingkan antara kalangan tasawuf dan ulama yang lebih skeptis.

Perspektif tasawuf (yang menerima kasyaf sebagai kemungkinan)
Tokoh seperti KH. DR. Miftakur Rohmad berada dalam tradisi yang memandang pengalaman ruhani sebagai sesuatu yang mungkin terjadi. Dalam kerangka ini:

  • Kasyaf dianggap sebagai karunia Allah kepada hamba yang saleh
  • “Melihat” Nabi Muhammad dipahami sebagai pengalaman batin, bukan fisik
  • Kisah-kisah seperti ini dipakai untuk membangkitkan cinta, adab, dan semangat ibadah, bukan untuk dijadikan dalil hukum

Tokoh klasik seperti Abdul Qadir al-Jilani atau Al-Ghazali juga mengakui adanya pengalaman spiritual, tetapi tetap menekankan bahwa itu bersifat pribadi dan tidak boleh bertentangan dengan Al-Qur’an dan Sunnah.

 

 

 


Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "GUS MIFTAH VS UMAR BIN HAFIDZ AKTING ( PURA - PURA ) MELIHAT ROSULULLOH"

Posting Komentar